Pekerjaan sebagai anestesiologist (dokter anestesi) seringkali menempatkan kami dalam kondisi yang ’sulit’.
Pekerjaan melakukan resusitasi, bantuan napas (napas buatan),pijat jantung luar/ dalam, DC shock (kejut jantung) hampir menjadi makanan sehari-hari. Berhadapan dengan pasien dalam kondisi kritis, yang berjuang antara hidup dan mati seakan sudah menjadi hal biasa. Keadaan ini kadang terasa ‘berbahaya’ karena bila semua seakan sudah menjadi suatu konsekuensi dari pekerjaan, tugas dan tanggung jawab, peran perasaan menjadi hampir sirna, semua dilakukan sebagai suatu rutinitas semata.
Ketika melakukan resusitasi, yang menjadi target adalah ‘menghidupkan‘ pasien kembali. Semua upaya dikerahkan, mulai dari pemberian cairan infus, obat-obatan standar sampai yang berfungsi memicu kerja jantung, melakukan pijat jantung dan pemberian napas buatan dilakukan dengan satu tujuan tadi.
Nah, yang sering terjadi adalah kami ini lupa bahwa Pemilik Kehidupan ini adalah Allah SWT yang mempunyai hak penuh atas nyawa umatnya. Kapan saja Dia hendak memanggil kembali umatnya, tiada siapapun yang bisa menahan, termasuklah segala upaya resusitasi tadi. Situasi sering tidak kondusif, dibeberapa rumah sakit, selama tindakan resusitasi keluarga berada tidak jauh dari pasien yang sedang diresusitasi, yang dengan penuh tangis dan harap menghaturkan doa pada Sang Khalik untuk kesembuhan hamba Allah yang dikasihinya ini.
Jadi, seringkali aku mengingatkan diri sendiri untuk ‘tahu batas’ dan ‘tahu kapan harus berhenti’ dari segala upaya penyelamatan ini dan dengan ikhlas membiarkan Allah SWT mengambil hambaNya kembali atau tetap terus melakukan resusitasi.
Proses ini sangat tidak mudah, perasaan gagal dalam memberi pertolongan, apalagi ada kaitannya dengan integritas profesi, membuat kami sering menjadi tidak realistik ( kalau tidak mau disebut ngotot melakukan resusitasi terus!!). Sebenarnya telah ada SOP kapan harus menghentikan tindakan tersebut, tapi… inilah butuh keikhlasan, kebesaran hati serta tindakan yang didasari pikiran yang realistik.
Saat ini, dengan keyakinan bahwa Allah SWT selalu memberi yang terbaik bagi hamba yang dikasihiNya, membuat proses ini berjalan jauh lebih ringan. Ada kalimat bijak yang rasanya tepat untuk kondisi ini:
Know when to move on. Know when to let go and when to walk away,
Posted by cindynugroho 
Posted by cindynugroho 
Posted by cindynugroho 




